(Analisis Terhadap Serat Darmogandul)

Darmagandul adalah sebuah Culture kebatinan Jawa yang cukup tenar dan controversial. Dalam berbagai sisi, serat Darmogandul sangat menghina dan memojokkan agama Islam dengan mengembalikan suku Jawa kepada kepercayaan nenek moyangnya yaitu agama Budha. Sejumlah kalangan memanfaatkan karya berbahasa Jawa ini sebagai sumber penelusuran sejarah terkait keruntuhan Majapahit, politik ‘kotor’ para wali, dan berdirinya Demak. Sebab, mereka beranggapan bahwa Darmagandul ditulis pada masa transisi antara kedua kerajaan tersebut. Prof. Dr. H. M. Rasjidi menepis anggapan tersebut. Menurut beliau Darmagandul termasuk buku baru dan ditulis setelah masa penjajahan Belanda. Hal ini dibuktikan dengan penggunaan sejumlah kata yang dipengaruhi oleh masa penjajahan seperti kelah (klacht), pulisi, dan lain-lain. Isi darmagandul lainnya merupakan bentuk pengajaran falsafah dan pemikiran ‘ilmu kehidupan’ dari seorang guru bernama Kyai Kalamwadi terhadap muridnya yang bernama Darmagandul.
Versi Darmagandul, Majapahit runtuh akibat serangan dari Adipati Demak bernama Raden Patah. Raden Patah adalah putra Prabu Brawijaya, raja Majapahit terakhir, dengan seorang putri dari China. Para Ulama yang dipimpin Sunan Giri dan Sunan Bonang yang tergabung dalam majlis dakwah wali sanga, memprovokasi Raden Patah agar merebut tahta kerajaan dari ayahnya yang masih kafir, pemeluk agama Budha. Usaha para wali sukses, Majapahit dapat dibumi hanguskan dan Prabu Brawijaya berhasil meloloskan diri. Darmagandul juga mengupas tentang rendahnya moralitas para ulama yang oleh Prabu Brawijaya diberi keleluasaan berdakwah di wilayah Majapahit. Pada saat Islam telah berkembang dan luas pengaruhnya mereka berbalik melawan Majapahit dan melupakan budi baik sang Prabu. Pengarang Darmagandul mengekspresikan moralitas para ulama itu dengan memaknai kata wali sebagai walikan (kebalikan). Artinya diberi kebaikan namun membalas dengan keburukan.
Identitas pengarang Darmagandul tidak jelas. Demikian juga latar belakang dan masa penulisannya. Namun buku ini secara pasti menempatkan dirinya sebagai tulisan yang ‘menghujat’ Islam, mengidentikkan Islam sebagai symbol kekerasan, dan amoralitas. Lantas, apa motif penulisan buku Darmagandul sebenarnya?
Darmagandul dan Fakta Ilmiah
Secara umum, Darmagandul mengetengahkan sejumlah kesalahan data dalam mengungkapkan fakta sejarah. Misalnya, diceritakan dalam sebuah peperangan, tentara Demak mengalami kekalahan karena tidak mampu menghadai tentara Majapahit yang menggunakan bedhil (senapan) dan mimis (peluru)
… wadya Majapahit ambedil, dene wadya Giri pada pating jengkelang ora kelar nadhahi tibaning mimis, …
Faktanya, senapan dengan istilah bedil, baru dikenal oleh orang Jawa pasca kedatangan bangsa Eropa di bumi Nusantara. Maka jelas bahwa buku Darmagandul baru ditulis pasca kedatangan bangsa Eropa dan bukan pada masa peralihan antara kejatuhan Majapahit dan berdirinya kerajaan Demak sebagaimana diyakini sebagian kalangan.
Buku ini juga menceritakan tentang hubungan antara para auliya dari berbagai negeri dengan pohon pengetahuan dalam bentuk perbandingan sebagai berikut:
“Auliya’ Gong Cu kumentus niru sastra tulisan paring Gusti Allah, nanging panggawene ora bisa, sastrane unine kurang, dadi pelon, para auliya panggawene sastra dipatoki, cacahe, mung aksara Cina kang akeh banget cacahe, nanging unine pelo, amarga Auliya kang nganggit kesusu mangan who kawruh, ing mangka iya kudu mangan who wit Budi, Auliya mau lali yen tinitah dadi manusa, ewadene meksa nganggo kuwasane Kang Maha Kuwasa, anggayuh kang dudu wajibe, kesusu tanpa panglulu nganggit aksara kang tanpa etungan cacahe, jenenge sastra godhong, godhonge wit budhi lan wit kawruh, dipethik saka satitik, ditata dikumpulake, banjur dianggit kanggo sastra, mulane aksarane nganti ewon, Auliya China kesiku, amarga arep gawe sastra urip kaya yasane Gusti Allah. Auliya Jawa enggone mangan who Budi nganti wareg, mula enggone nganggit aksara sanadyan ora pati akeh cacahe, nanging wis bisa nyukupi, sarta unine ora pelo. Auliya Walanda enggone mangan who wit kawruh uga nganti wareg, dene enggone nganggit aksara iya dipathoki cacahe. Auliya Arab enggone mangan who wit kuldi akeh banget. Dene enggone nganggit aksara iya dipathoki cacahe. Nanging yen sastra yasane Gusti Allah dadine saka sabda, wujude dadi dewe, mulane unine iya cetha, sastrane ora ana kang padha.”
Upaya kategorisasi satra dan jumlah aksara antar bangsa kemudian digunakan untuk menentukan harkat, martabat, serta ‘ketinggian’ pengetahuan dan budi, jelas merupakan ide ahistoris. Kenyataan sebeanrnya, aksara jawa tidak cukup baik untuk menuliskan semua huruf yang bisa dilafalkan melalui suara. Sebagai contoh, dalam kaidah penulisan huruf jawa terdapat konsep aksara swara dan aksara rekan. Aksara swara adalah huruf yang digunakan untuk menuliskan huruf vocal di awal kata yang berasal dari manca, seperti pada kata Allah, Eropah, dan Umar. Sedangkan aksara rekan adalah huruf-huruf yang digunakan untuk menuliskan pelafalan huruf manca yang tidak terdapat dalam aksara Jawa, seperti za,fa, gha, kha, dan dza.
Selain itu, kata ‘Auliya Walanda’ yang berarti ‘aulia Belanda’ menunjukkan bahwa Darmagandul ditulis pada masa penjajahan Belanda atau pasca itu dan tidak mungkin dikenal dalam kurun peralihan antara Majapahit dan Demak. Maka teori masa penulisan yang menyebutkan, antara keruntuhan Majapahit dan berdirinya Demak, dengan demikian jelas terbantahkan.
Sedangkan tentang keruntuhan Majapahit, pada dasarnya kerajaan Hindhu tersebut memang telah melemah sejak semula akibat perang saudara yang dikenal sebagai perang paregreg, melemahnya perekonomian, dan pemimpin yang kurang cakap serta wibawa politik yang memudar. Saat ini Majapahit mengalami masa surut, secara praktis wilayah-wilayah kekuasaannya mulai memisahkan diri. Wilayah-wilayah yang terbagi menjadi kadipaten-kadipaten tersebut saling menyerang satu sama lain dan berebut mengklaim sebagai pewaris tahta Majapahit. Arus kekuasaan mengerucut pada dua adipati, yaitu Raden Patah dan Ki Ageng Pengging. Raden Patah mendapat dukungan dari Walisongo, Ki Ageng Pengging mendapat dukungan dari Syekh Siti Jenar. Sehingga dengan demikian keruntuhan Majapahit pada masa itu dapat dikatakan tinggal menunggu waktu sebab sistem dan pondasi kerajaan telah mengalami pengoroposan dari dalam. Jadi akhir Majapahit, bukan karena serangan Demak sebagaimana termaktub dalam ‘tuduhan’ Darmagandul.
DARMAGANDUL DAN PENGARUH KRISTEN

Darmagandul seringkali menggunakan frase wit kawruh yang bermakna pohon pengetahuan. Idiom ‘pohon pengetahuan’ bukanlah kata-kata yang wajar dalam nalar Jawa. Falsafah Jawa lebih sering menampilkan kata-kata seperti banyu bening (air bening), banyu penguripan (air penghidupan), cahaya, sunar, pepadhang, dan berbagai frase yang melibatkan air atau identik dengan cahaya, bukannya pohon semacam pohon pengetahuan. Penggunaan kata pohon (wit atau taru), secara simbolis, dalam pemikiran Jawa, umumnya digunakan untuk menggambarkan kebijaksanaan, pengayoman, dan beberapa hal yang identik dengan kewibawaan penguasa. Jika dirunut kepada ajaran Budha sekalipun tidak akan ditemukan ajaran yang identik dengan pohon pengetahuan. Pohon Bodhi, pohon di mana Sidharta Gautama diyakini umat Budha menerima ilham di bawahnya, secara harfiah lebih tepat dimaknai sebagai pohon penerangan agung, kesadaran yang sempurna, ilham, atau pencerahan dan bukannya pohon pengetahuan. Lantas dari mana ide tentang pohon pengetahuan tersebut bersumber?
Ide tentang Pohon Pengetahuan dalam Serat Darmagandul, tidak bisa diingkari, berasal dari pemikiran kekristenan, sebagai berikut:
Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.”
Ide pohon pengetahuan dalam Perjanjian Lama tersebut seolah-olah ditolak dengan kalimat: … Yen Kitab Jawa orang nyebutake mangkana (maksudnya kisah Pohon Pengetahuan atau Pohon Kuldi)”. Akan tetapi ide-ide tentang pohon pengetahuan dalam perjanjian lama tersebut dalam berbagai temapt justru diakomodasi oleh serat Darmagandul. Pada saat yang bersamaan terjadi miskonsepsi dalam Darmagandul terhadap “Pohon Kuldi” dalam pandangan Islam. “Pohon Kuldi” (Syajaratul Kuldi) yang bermakna pohon kekekalan pada hakikatnya adalah upaya pendefinisian yang dilakukan oleh Iblis terhadap pohon yang tumbuh di Jannah di mana Allah melarang Adam untuk mendekatinya. Dengan demikian nama pohon Kuldi bukan merupakan propername hakiki yang dikenal dalam konsep Islam, namun secara substansial maupun aksi merupakan bentuk kekejian dan pengelabuan Iblis terhadap Adam.
Dalam Darmagandul juga terdapat cerita tentang salah satu putra Nabi Dawud yang bernafsu untuk menggantikan kekuasaan ayahnya. Sang anak lantas melakukan kudet (coup d’etat). Namun Nabi Dawud berhasil merebut kembali tahtanya dan sang anak kemudian melarikan diri dan tewas dengan kepala tersangkut di pohon saat menunggang kuda.
Kisah putra Dawutd yang durhaka sebagaimana cerita di atas tidak akan dijumpai dalam sumber-sumber Islam, baik Al Quran, hadits, maupun sejumlah kitab klasik Isalm. Sebab cerita tersebut bersumber langsung dari kitab umat Nashrani yaitu Perjanjian Lama dalam 2 Samuel pasal 15 sampai 18. Ringkasannya adalah Absalom, putra raja Dawud, berniat menarik simpati rakyat dengan menangani perkara pengadilan di kerajaan Ayahnya. Hakikatnya, Absalom sedang mempersiapkan diri dan menghimpun kekuatan untuk memberontak kepada sang Ayah. Sejumlah persepakatan gelap dibuat sehingga banyak rakyat memihak Absalom. Mengetahui posisi politiknya kurang menguntungkan, Dawud meloloskan diri disertai pegawai dan keluarganya yang lain. Giliran selanjutnya Dawud berhasil memukul mundur tentara Absalom. Absalom melarikan diri dengan mengendarai bagal (hewan keturunan kuda dan keledai). Ketika melewati jalinan dahan pohon Tarbantin yang besar, kepalanya tersangkut, sedangkan bagal yang dikendarainya terus berlari. Terbukti bahwa kisah dalam Darmagandul tersebut merujuk langsung kepada Perjanjian Lama, kitab yang disucikan oleh penganut Kristen dan Yahudi.
Pengarang Darmogandul nampaknya lebih menguasai doktrin kekristenan dibandingkan ajaran Islam dan Budha, dalam hal ini yang coba dibelanya. Bahkan sang pengarang beritikad menampilan bahwa agama Nashrani lebih unggul dibandingkan agama-agama lainnya. Motif ini dapat ditelisi, dimana agama lain dalam hal ini islam, senantiasa ditampilkan dalam image negative. Sementara Nashrani ditempatkan secara positif.
PUNCAK MOTIF DARMAGANDUL
Serat Darmagandul disusupi dengan motif dan kepentingan tersembunyi. Sedangkan puncak dari motif dan kepentingan dalam penulisan buku Darmagandul digambarkan dalam suatu kutukan roh Prabu Brawijaya terhadap Raden Patah.
Maksud kutukan roh prabu Brawijaya tersebut, suatu ketika, agama Islam akan dikalahkan oleh agama kawruh. Agama kawruh sebagaimana telah dijelaskan sebangun dengan pohon pengetahuan yang maksudnya adalah agama Kristen. Dengan demikian Darmagandul merupakan kitab Jawa yang seolah-olah menggambarkan dan memberikan ramalan masa depan bahwa Islam di Jawa akan ditundukkan oleh agama Kristen yang salah satu cirinya adalah mengajar benar dan salah serta memakan babi seperti umumnya orang Majapahit. Jelas umat Budah tidak semuanya makan daging. Sedangkan muslim tidak memakan daging babi. Dan hal ini merupakan bukti nyata bahwa Darmagandul merupakan buku yang sejak awal dimaksudkan guna kepentingan misi penginjilan.
PENUTUP
Berdasarkan kajian yang telah dilakukan di atas maka identitas penulis dan penulisan buku Darmagandul dapat disimpulkan point-point sebagai berikut:
1. Darmagandul ditulis pada masa penjajahan Belanda atau bahkan jauh setelahnya, mengingat telah ada bentuk pemahaman mendalam terhadap kita Perjanjian Lama. Dengan asumsi bahwa penulis kitab Darmagandul merupakan orang Jawa, maka pada masa penulisannya seharusnya sudah ada terjemahan Bible dalam Bahasa Jawa atau bahasa lain yang mungkin dapat dipahami. Dengan demikian anggapan bahwa Darmagandul ditulis pada masa transisi antara keruntuhan Majapahit dan berdirinya Demak dengan sendirinya terbantahkan.
2. Identitas pengarang Darmagandul adalah orang Kristen atau setidaknya pernah mempelajari kekristenan. Jika bukan keduanya maka setidaknya penulis buku tersebut adalah penghayat sinkretisme agama yang secara kebetulan memiliki phobia tehadap islam.
3. Pengarang Darmagandul bukan penganut agama Budha. Sebab telah gagal menjelaskan beberapa doktrin mendasar dalam ajaran Budha. Salah satu contohnya konsep kedewaan dalam doktrin agama Hindhu.
4. Darmagandul adalah buku yang dimaksudkan untuk mempengaruhi pemikiran rakyat Jawa agar mereka siap menerima doktrin dan ajaraan Injil.
Oleh Susiyanto, SE
Majalah An Najah Edisi 38/ Th.3 Dzulqa’dah 1429/ November 2008